TAMAN KENANGAN
Cerpen
Toni agus prasetyo
Saat aku sedang mendengarkan music di kamar. Tiba-tiba saja handphonku
berbunyi ternyata Winda menelfonku. Dia adalah sodaraku, dia meminta tolong padaku untuk mengantarnya
kerumah temannya untuk meminjam buku. Sebernarnya aku tidak mau karena sudah
malam. Tapi aku tidak enak untuk menolaknya dan karena dia juga seorang
perempuan. Pada saat itu cuacanya dingin sekali. Aku mengenakan jaket hitam
tebal kesukaanku, sehingga dapat menghangatkan tubuhku. Kemudian aku menjemput
Winda di rumahnya. Lalu kami pun pergi ke rumah Putri. Setelah sampai di
rumahnya, kami di persilahkan masuk dan duduk. Kami di buatkan wedang jahe oleh
tantenya. Dan kami juga dipersilahkan minum oleh tantenya. Sambil menunggu Putri
mencari buku yang akan Windi pinjam. Aku dan Winda kemudian meminum wedang jahe
yang di suguhkan kepada kami. Tak lama kemudian putri keluar dari kamarnya dan
membawa buku yang yang akan di pinjam winda. Mereka berdua ngobrol dengan
asiknya sampai melupakanku kalau ada di sampingnyaKelihatanya Purti tidak
terlalu banyak bicara seperti sodaraku ini. Kemudian Winda memperkenalkanku.
“Oh.. iya Put, kenalkan ini Tomi saudaraku”.
“Hay..” aku sambi mengulurkan tangan padanya.
“Tom.. ini kenalkan ini putri..”
“Hay juga..”
memang benar perkiraanku Putri tidak banyak bicara. Tapi putri cepat
akrabnya. Kemudian Kami ngobrol sampai lupa waktu. Tidak terasa sudah larut
malam,kemudian aku dan Winda pun segera pamitan pada Putri dan pulang. Tak lupa
untuk membawa buku yang akan di pinjam Winda.
Malam
berikutnya Winda dan Putri mengajakku ke PM (pasar malam). Winda menyuruhku
menjemput Putri. Karena Winda sedang menunggu pacarnya, ia bilang bahwa ia akan
menyusul sama pacarnya. Kemudian aku segera kerumah Putri. sesampai di rumahnya
ia sedang duduk di depan rumah sambil mendengarkan lagu-lagu sedih. Kemudian aku
membuyarkan lamunannya dengan mengagetkannya.
“Kenapa put kamu. Kok lagunya sedih gitu..?”
“Enggak papa kok.. Ooh.. iya mana Windi Tom?”
“Serius enggak papa? ,tadi sih katanya mau kesini nunggu
pacarnya njemput.”
“Ya udah..! kita tunggu dulu aja”
“Memangnya kamu udah siap-siap?”
“Belumlah..! masak pake celana pendek. Gila loe”
“Ya udah. Kamu ganti baju dulu sana, keburu mereka datang
lagi.”
“Iya.. bawel lu”
Kemudian
Putri masuk ke dalam rumah dan ganti pakaian. Tak lama kemudian Putri keluar
dari dalam rumahnya. Putri terlihat berbeda saat ia memakai kerudung biru dan
celana panjang hitam itu. Putri lebih kelihatan cantik. Kami cukup lama
menunggu Winda dan pacarnya. Dari kemarin kok aku lihat di rumahnya hanya ada
Putri dan tantenya. Kemana orang tua Putri? Pikirku dalam hati. Apa mungkin
mereka sedang kerja? Tapi kok jam segini belum pulang?. Pertanyaan itu
membuatku semakin bingung.
Tak lama kemudian Winda dan pacarnya datang
juga. Kami pun langsung berangkat ke pasar malam. Takut kemalaman, kalo udah
malam lapaknya banyak yang tutup. Di pasar malam kami berkeliling melihat-lihat.
Kami pun berhenti karena Winda mengajak kami naik wahana yaitu altaria, seperti
ayunan besar berbentuk kapal. Awalnya biasa tapi saat naiknya rasanya seperti
di ombang - ambing dan ingin terbang. Selesai naik altaria aku merasa mual. Kami
pun melanjutkan berkeliling. Tiba-tiba ada suara aneh aku sedikit kebingungan
ternyata hanya suara perutku keroncongan. Aku melihat keramaian dari kejauhan,
apa yang dilakukan orang – orang itu?. Aneh sekali aku merasa penasaran
ternyata orang – orang itu sedang antri bakso tusuk. Aku mengajak mereka beli
bakso tersebut. Rasanyan memang enak dibumbui menggunakan bumbu sate. Selesai
makan Putri mengajak kami pulang, mungkin ia takut kena marah karena sudah
malam tapi mungkin juga karena capek,
sehingga Putri mengajak kami pulang. Kemudian aku mengantarnya pulang. Sesampai
di rumahnya aku di persilahkan untuk istirahat sebentar. Di rumah Putri
ternyata hanya ada tantenya sedang mengajari anaknya. Dan lagi-lagi pertanyaan itu muncul. Di mana
orang tua putri?. Dari pada aku semakin bingung aku berpamitan pulang. Aku semakin bingung dengan keluarga putri.
*****
Sejak
kecil aku memang hanya tinggal bersama tanteku. Orang tuaku telah cerai sejak
aku berumur lima tahun. Sekarang ibuku sudah menikah dan dikaruniai dua orang
anak. Sedangkan ayahku bekerja di toko roti di daerah bandung. Sebelum orang
tuaku bercerai keluaga kami sangat harmonis dan tak pernah ada pertengkaran
diantara mereka. Tetangga kami bahkan ada yang iri dengan orang tuaku. Ayah dan
ibuku sering mengajaku ke taman kota. Di sana terihat indah ada air mancur dan
berbagai bunga. Aku senang sekali datang kesana. Jika malam hari taman kota ini
sangat indah banyak lampu warna-warni menghiasi air mancur.
Malam
itu, berbeda tidak seperti biasanya ayahku tidak bisa menemaniku pergi ke taman,
karena ia harus menyelesaikan tugas dari kepala chef. Ayahku memang pandai memasak.dirumah saja yang sering memasak
kebanyakan ayahku dari pada ibuku. Karena merasa bosan di rumah ibuku mengajaku
ke taman kota. Aku sangat senang pada saat itu. Sesampai di taman kota aku
mengajak ibuku berkeliling. Oh iya.. taman kota ini sangat luas. Kemudian ibuku
merasa kelalahan, dan ia mengajaku isitirahat sebentar. Sambil istirahat kami
ngobrol.
“Ibu.. kenapa sih ibu kok lebih memilih kesini dari pada
ke alun-alun?
Dan
ibuku bilang.
“Disini adalah
tempat pertama kali ibu dan ayah bertemu”.
“Ibu sayang dan juga setya ya sama ayah?”
“putri tau dari mana?”
“buktinya ibu selalu mengajak putri kesini”. Kemudan aku
dan ibuku kembali keliling taman. Aku dan ibuku foto-foto bareng.dekat bunga
mawar kesukaanku. Setelah asik berfoto – foto bareng lalu, aku dan ibuku
pulang. Belum sampai keluar dari taman ibuku seperti melihat ayah berpegangan
tangan dengan perempuan lain. Mengetahui bahwa itu benar ayah. Ibu berubah
seperti banteng yang melihat bendera merah. Ibu yang saat itu sedang naik
darah. Langsung mendatangi ayah. Ayah pun kaget melihat kami berdua. Kemudian
ayah ditampar ibu yang sangat marah karena ia merasa bahwa ayah telah menodai
kesetiaanya.
Setelah
itu ibu mengajaku pulang. Di perjalanan pulang ibuku menangis. Aku sangat
jengkel dengan perempuan yang berpegangan tangan dengan ayah. Mungkin ayah
merasa menyesal, ayah mengejar kami berdua. Sesampai di rumah ayah mencoba
menjelaskannya dan minta maaf. Tapi semua itu percuma. Suasana bukan semakin
membaik tapi justru ibu yang saat itu sedang marah sekali, ia memilih mengajak
ayah untuk bercerai.
Pada
tanggal 13 agustus 2003 orang tuaku resmi bercerai. Kemudian ibuku
meninggalkanku beliau merantau ke malaysia. Dan sejak saat itu aku di titipkan
kepada tanteku. Dan ibuku sekarang tinggal dengan suami barunya di Kuala
lumpur.
Kalau sedang sedih atau
kangen orang tuaku aku memilih ke taman kota. Di sini banyak kenangan yang
mengingatkaku kepada orang tuaku. Taman itu aku jadikan taman kenangan.
Terkadang aku iri kepada teman-temanku. Karena mereka memiliki keluarga yang
harmonis sedangkan orang tuaku. Aku merasa tuhan tak adil. Orang lain bahagia
kenapa aku tidak. Mungkin ini takdirku.
Kebahagiaan
menemani masa kecilku. Keluarga yang utuh membuatku tak pernah merasa kesepian. Kehangatan dan kasih sayang selalu tercurah untukku.
Akulah yang menjadi nomor satu . Anak bungsu yang mungil dan lucu
Namun itu semua telah berlalu. Aku yang dulu mungil kini telah dewasa. Kehidupan yang bahagia tiada lagi menemani. Dan tiada lagi keluarga yang utuh dan penuh kehangatan seperti dulu .Kini satu keluarga tercerai berai tak karuan. Dan itu semua hampir membuatku putus asa..
Namun aku menyadari. Tiada guna aku berlarut dalam kesedihan. Tiada guna aku berputus asa. Mungkin inilah takdir dalam hidupku. Agar aku semakin dewasa dalam berfikir. Dan lebih bijaksana dalam menghadapinya..
Aku memang tak pernah bertanya. "Mengapa ibu meninggalkan ayah". "Dan mengapa ayah diam saja". Karna aku mengetahui semuanya. masalahnya, penyebabnya. Namun aku tak dapat melakukan apa-apa untuk mengembalikan keutuhan keluarga. Tanda tanya yang kusimpan dalam hatipun kurasa takkan ada gunanya jika aku ungkapkan. Yang ada hanya menambah kekacauan saja..
Dua kakakku pun kini mempunyai kehidupan masing-masing. Masalah masing-masing, dan ego masing-masing. Tinggallah aku sendiri. Kesepian, kesunyian yang kurasakan. Tanpa adanya belaian kasih sayang..
Namun meski aku hanya seorang diri. Takkan lagi kubiarkan kesedihan menemani hari-hariku. Biarkan saja senyum ini melayang di udara. Seolah tak ada apapun yang terjadi. Yang terlihat hanyalah kebahagiaan. Biarkan aku simpan kenangan bahagia ini di dalam lubuk hatiku. Agar aku tetap merasakan kehangatan itu masih ada. Meski semua itu telah berlalu.Biarlah tinggal kenangan..
Namun itu semua telah berlalu. Aku yang dulu mungil kini telah dewasa. Kehidupan yang bahagia tiada lagi menemani. Dan tiada lagi keluarga yang utuh dan penuh kehangatan seperti dulu .Kini satu keluarga tercerai berai tak karuan. Dan itu semua hampir membuatku putus asa..
Namun aku menyadari. Tiada guna aku berlarut dalam kesedihan. Tiada guna aku berputus asa. Mungkin inilah takdir dalam hidupku. Agar aku semakin dewasa dalam berfikir. Dan lebih bijaksana dalam menghadapinya..
Aku memang tak pernah bertanya. "Mengapa ibu meninggalkan ayah". "Dan mengapa ayah diam saja". Karna aku mengetahui semuanya. masalahnya, penyebabnya. Namun aku tak dapat melakukan apa-apa untuk mengembalikan keutuhan keluarga. Tanda tanya yang kusimpan dalam hatipun kurasa takkan ada gunanya jika aku ungkapkan. Yang ada hanya menambah kekacauan saja..
Dua kakakku pun kini mempunyai kehidupan masing-masing. Masalah masing-masing, dan ego masing-masing. Tinggallah aku sendiri. Kesepian, kesunyian yang kurasakan. Tanpa adanya belaian kasih sayang..
Namun meski aku hanya seorang diri. Takkan lagi kubiarkan kesedihan menemani hari-hariku. Biarkan saja senyum ini melayang di udara. Seolah tak ada apapun yang terjadi. Yang terlihat hanyalah kebahagiaan. Biarkan aku simpan kenangan bahagia ini di dalam lubuk hatiku. Agar aku tetap merasakan kehangatan itu masih ada. Meski semua itu telah berlalu.Biarlah tinggal kenangan..
*****
Pada
tanggal 13 juni 2014 kemarin tepat ulang tahun Putri yang ke 17. Aku dan Windi
beserta pacarnya memberi kejutan
untuk Putri. Aku hanya membawakan kue
ultah pada umumnya. Pada saat itu wajah Putri terlihat seperti senang, kaget,
sedih. Senangnya sudah bertambah umur, kagetnya dapat kejutan dari teman
terdekat, sedihnya mungkin ia merasa ulang tahunnya tidak ada orang tuanya
disampingnya. Pertanyaan itu kembali datang, di mana sebenarnya orang tua Putri
sekarang?. Akun sempat berfikir ingin menanyakannya tapi takut jika menyinggung
perasaanya. Setelah selesai merayakan ulang tahun Putri. Aku, Windi dan pacarnya kemudian pulang
karena sudah larut malam.
Setelah
aku cukup lama mengenal Putri dan kami pun pernah berpacaran beberapa bulan. Mungkin
ia merasa takut akan persahabatannya dengan winda akan rusak. Ia lebih suka
kalau kita hanya sekedar sahabat karena sahabat itu akan abadi. Aku dan Putri saling
curhat dan saling terbuka. Dari cerita masalahnya dengan pacarnya sampai pribadi.
Aku berjanji padanya tidak akan menyebarkannya. Yang paling
membuatnya sedih bahkan
menangis saat ia menceritakan kedua orang tuanya yang telah cerai sewaktu ia
kecil . Ketika ia bercerita dan menangis aku turut ikut mengeluarkan air mata. Selama
7 tahun ia tak merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya seperti orang
lain.
Wonosari,
07 September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar